<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<itemContainer xmlns="http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5 http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5/omeka-xml-5-0.xsd" uri="http://unsyiana.usk.ac.id/items/browse?output=omeka-xml&amp;page=988&amp;sort_field=added" accessDate="2026-09-04T12:44:41+07:00">
  <miscellaneousContainer>
    <pagination>
      <pageNumber>988</pageNumber>
      <perPage>10</perPage>
      <totalResults>15608</totalResults>
    </pagination>
  </miscellaneousContainer>
  <item itemId="12333" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99010">
                <text>Uswatun Hasanah</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99011">
                <text>2015</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99012">
                <text>ABSTRAKUSWATUN HASANAH,2015TINJAUAN YURIDIS PASAL 22 KONVENSIHAK ANAK TAHUN 1989 TERHADAPPENGUNGSI ANAK MENURUT HUKUMINTERNASIONALFakultasHukum UniversitasSyiah Kuala. (v, 63)pp., bibl.,app.(Prof. Dr. Adwani, S.H., M.Hum.)Pasal 22 Konvensi Hak Anak Tahun 1989 merupakan instrumen hukum internasional yang menyatakan bahwa pengungsi anak berdasarkan statusnya sebagai pengungsi maupun anak-anak yang mencari status pengungsi berhak mendapatkan perlakuan yang layak serta perlindungan khusus.Namun ketentuan Pasal 22 Konvensi Hak Anak ini belum memuat  pengaturan khusus mengenai hak anak dalam pengungsian. Masyarakat internasional perlu memikirkan bagaimana membentuk sistem perlindungan yang efektif untuk anak guna terpenuhinya hak-hak pengungsi anak.Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hak anak  yang diatur dalam Pasal 22 konvensi Hak Anak Tahun 1989 terkait dengan pemenuhan standar hak anak yang berada dalam pengungsian dan untuk menjelaskan perlindungan yang diatur dalam Pasal 22 Konvensi Hak Anak 1989 terkait dengan perlindungan hukum terhadap pengungsi anak.Untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi ini dilakukan penelitian hukum normatif dimana kajian utamanya adalah data sekunder berupa Konvensi Hak Anak 1989, Konvensi 1951 tentang status pengungsi dan konvensi-konvensi internasional lainnya mengenai anak maka data-data yang diperoleh adalah melalui penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mempelajari buku-buku dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pembahasan ini. Semua data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan Pasal 22 Konvensi Hak Anak Tahun 1989 terhadap pengungsi anak belum memenuhi standar hak anak dalam pengungsian. Kondisi para pengungsi di tempat-tempat pengungsian menunjukkan bahwa para pengungsi anak belum memperoleh haknya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai permasalahan yang dialami oleh pengungsi anak selama berada di negara penerima. Selayaknya Pasal 22 tersebut memenuhi kebutuhan perlindungan hukum terhadap pengungsi anak agar hak-hak pengungsi anak terpenuhi dengan baik.Dalam rangka pemenuhan hak pengungsi anak seharusnya diadakan pengevalusian terhadap Pasal 22 Konvensi Hak Anak. Hal ini mengingat masih terdapatnya kelemahan dalam penggunaan kata selayaknya sehingga munculnya perlakuan yang tidak seragam dalam pemenuhan hak pengungsi anak di negara-negara penerima.Disarankan agar masyarakat internasional menyusun sebuah instrumen hukum baru berupa konvensi mengenai Hak Pengungsi Anak agar pengungsi anak dapat memperoleh haknya dengan baik.</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99013">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99014">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13073</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99015">
                <text>Fakultas Hukum</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99016">
                <text>TINJAUAN YURIDIS PASAL 22 KONVENSI HAK ANAK TAHUN 1989 TERHADAP PENGUNGSI ANAK MENURUT HUKUM INTERNASIUONAL</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12334" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99017">
                <text>Uswatun Hasanah</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99018">
                <text>ABSTRAKUSWATUN HASANAH,2015TINJAUAN YURIDIS PASAL 22 KONVENSIHAK ANAK TAHUN 1989 TERHADAPPENGUNGSI ANAK MENURUT HUKUMINTERNASIONALFakultasHukum UniversitasSyiah Kuala. (v, 63)pp., bibl.,app.(Prof. Dr. Adwani, S.H., M.Hum.)Pasal 22 Konvensi Hak Anak Tahun 1989 merupakan instrumen hukum internasional yang menyatakan bahwa pengungsi anak berdasarkan statusnya sebagai pengungsi maupun anak-anak yang mencari status pengungsi berhak mendapatkan perlakuan yang layak serta perlindungan khusus.Namun ketentuan Pasal 22 Konvensi Hak Anak ini belum memuat  pengaturan khusus mengenai hak anak dalam pengungsian. Masyarakat internasional perlu memikirkan bagaimana membentuk sistem perlindungan yang efektif untuk anak guna terpenuhinya hak-hak pengungsi anak.Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hak anak  yang diatur dalam Pasal 22 konvensi Hak Anak Tahun 1989 terkait dengan pemenuhan standar hak anak yang berada dalam pengungsian dan untuk menjelaskan perlindungan yang diatur dalam Pasal 22 Konvensi Hak Anak 1989 terkait dengan perlindungan hukum terhadap pengungsi anak.Untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi ini dilakukan penelitian hukum normatif dimana kajian utamanya adalah data sekunder berupa Konvensi Hak Anak 1989, Konvensi 1951 tentang status pengungsi dan konvensi-konvensi internasional lainnya mengenai anak maka data-data yang diperoleh adalah melalui penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mempelajari buku-buku dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pembahasan ini. Semua data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan Pasal 22 Konvensi Hak Anak Tahun 1989 terhadap pengungsi anak belum memenuhi standar hak anak dalam pengungsian. Kondisi para pengungsi di tempat-tempat pengungsian menunjukkan bahwa para pengungsi anak belum memperoleh haknya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai permasalahan yang dialami oleh pengungsi anak selama berada di negara penerima. Selayaknya Pasal 22 tersebut memenuhi kebutuhan perlindungan hukum terhadap pengungsi anak agar hak-hak pengungsi anak terpenuhi dengan baik.Dalam rangka pemenuhan hak pengungsi anak seharusnya diadakan pengevalusian terhadap Pasal 22 Konvensi Hak Anak. Hal ini mengingat masih terdapatnya kelemahan dalam penggunaan kata selayaknya sehingga munculnya perlakuan yang tidak seragam dalam pemenuhan hak pengungsi anak di negara-negara penerima.Disarankan agar masyarakat internasional menyusun sebuah instrumen hukum baru berupa konvensi mengenai Hak Pengungsi Anak agar pengungsi anak dapat memperoleh haknya dengan baik.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99019">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13074</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99020">
                <text>TINJAUAN YURIDIS KONVENSI HAK ANAK TAHUN 1989 TERHADAP PENGUNGSI ANAK MENURUT HUKUM INTERNASIONAL</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12335" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99021">
                <text>SAFRIZAL</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99022">
                <text>2015</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99023">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99024">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13075</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99025">
                <text>Fakultas FKIP</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99026">
                <text>KONTRIBUSI DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN DAYA TAHAN OTOT PERUT TERHADAP KEMAMPUAN LARI SPRINT 100 METER PADA MAHASISWA FKIP PENJASKESREK UNSYIAH ANGKATAN 2013</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12336" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99027">
                <text>Mismarni</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99028">
                <text>2015</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99029">
                <text>ABSTRAKKata Kunci : Penerapan model ARIAS, materi persamaan kuadrat.Matematika merupakan  pengetahuan dasar yang memiliki peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Pembelajaran matematika yang terjadi saat ini di sekolah berorientasi pada proses dan hasil belajar yang dapat diamati dan diukur, serta cenderung kepada penguasaan materi. Terkait dengan pentingnya peranan guru, maka guru harus mampu memilih penerapan pembelajaran yang dapat membangkitkan minat belajar siswa sehingga hasil yang diperoleh dapat secara optimal. Penggunaan model dalam pembelajaran sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar dan hasil belajar. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran adalah penerapan model pembelajaran ARIAS. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar melalui pendekatan  penerapan model pembelajaran ARIAS pada pokok bahasan persamaan kuadrat di kelas X IPA-1 SMA Inshafuddin Banda Aceh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre exprimental dengan desain one-shot case study dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Inshafuddin Banda Aceh sebanyak satu kelas dengan tiga puluh siswa, sampel yang diambil adalah kelas X IPA-1. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes tertulis yaitu tes akhir. Data yang diperoleh dari hasil penelitian di analisis dengan menggunakan statistik uji-t satu pihak yaitu uji pihak kanan pada taraf signifikan   dan derajat kebebasan (dk)=29, maka didapat thitung = 5,29 sehingga thitung &gt; ttabel yaitu 5,29 &gt;1,70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran ARIAS pada materi persamaan kuadrat di kelas X IPA-1 SMA Inshafuddin Banda Aceh dapat mencapai ketuntasan belajar.</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99030">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99031">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13076</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99032">
                <text>Fakultas FKIP</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99033">
                <text>PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS PADARN MATERI PERSAMAAN KUADRAT DI KELAS X SMARN INSHAFUDDIN BANDA ACEH</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12337" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99034">
                <text>Cut Reinida Rischa</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99035">
                <text>2010</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99036">
                <text>ABSTRAKNama: Cut Reinilda RischaProgram Studi: Kedokteran GigiJudul:Pengaruh Bahan anti Karies dari Beberapa Tanaman Herbal dalam Pasta Gigi yang Mengandung Fluoride terhadap  Pertumbuhan Streptococcus mutans secara In VitroKaries gigi merupakan penyakit rongga mulut yang paling sering ditemukan dalam praktek dokter gigi dan bakteri utama penyebabnya adalah Streptococcus mutans (S. mutans). Fluoride, xylitol, daun sirih dan siwak yang ditemukan dalam pasta gigi merupakan salah satu bahan yang dapat menghambat pertumbuhan S. mutans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh bahan anti karies dari beberapa tanaman herbal seperti xylitol, daun sirih dan siwak dalam pasta gigi yang mengandung fluoride terhadap pertumbuhan S. mutans secara in vitro. Sampel yang digunakan adalah S. mutans strain Laboratorium yang dipaparkan dengan 3 pasta gigi yang mengandung fluoride dengan penambahan masing-masing bahan herbal antara lain xylitol, daun sirih dan siwak serta 1 pasta gigi tanpa herbal (kontrol). Hasil uji ANOVA terhadap jumlah koloni S. mutans yang tumbuh pada media TYS20B menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan (p</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99037">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="42">
            <name>Format</name>
            <description>The file format, physical medium, or dimensions of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99038">
                <text>SKR</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99039">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13077</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="44">
            <name>Language</name>
            <description>A language of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99040">
                <text>id</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99041">
                <text>Fakultas Kedokteran</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="49">
            <name>Subject</name>
            <description>The topic of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99042">
                <text>TOOTHBRUSHING</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99043">
                <text>CARIES-DENTISTRY</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99044">
                <text>MEDICINAL PLANTS</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99045">
                <text>PENGARUH BAHAN ANTI KARIES DARI BEBERAPA TANAMAN HERBAL DALAM PASTA GIGI YANG MENGANDUNG FLUORIDE TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MUTANS SECARA IN VITRO</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12338" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99046">
                <text>Hery Arianda</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99047">
                <text>2015</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99048">
                <text>ABSTRAK                 HERY ARIANDA, 2015TINDAK PIDANA MERPERDAGANGKAN PANGAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN KEAMANAN PANGAN(Suatu Penelitian di Wilayah Hukum Banda Aceh)FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SYIAH KUALA(v, 59), pp., tabl., bibl.                                                                                             M. IQBAL, S.H., M.H.                  Pasal 89 dan Pasal 90 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan telah mengatur mengenai larangan bagi setiap orang untuk memperdagangkan makanan yang tidak sesuai dengan keamanan pangan dan pangan yang tercemar yaitu  pangan yang mengandung bahan beracun dan bahan berbahaya. Di dalam Pasal 141 UUP sanksi pidana bagi setiap orang yang memperdagangkan pangan sebagaimana yang telah di sebut pada Pasal 89 dan 90 yaitu pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 4.000.000.000,- (empat milyar rupiah). Upaya pembinaan terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh akan tetapi masih juga dijumpai pelaku usaha yang memperdagangkan pangan yang tidak sesuai dengan keamanan pangan atau mengandung bahan kimia berbahaya. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui sebab pelaku usaha  memperdagangkan pangan dengan menggunakan bahan kimia berbahaya, untuk mengetahui upaya yang dilakukan BPOM dalam mencegah peredaran pangan yang mengandung bahan kimia berbahaya, dan untuk mengetahui sanksi yang diberikan terhadap pelaku usaha yang telah memperdagangkan pangan dengan menggunakan tambahan bahan kimia berbahaya.Data dalam skripsi ini diperoleh melalui penelitian kepustakaan yaitu dengan mempelajari literatur, buku dan tulisan-tulisan, serta ketentuan perundang-undangan yang berkenaan dengan permasalahan skripsi ini, dan juga penelitian lapangan dilakukan guna memperoleh data primer yaitu melalui wawancara dengan responden dan informan.Hasil penelitian menunjukkan ada 4 alasan sebab pelaku menggunakan  bahan kimia berbahaya ke dalam pangan yaitu supaya makanan dapat tahan lama atau bisa awet, supaya makanan akan tampak lebih segar, supaya lebih menghemat modal, dan juga karena faktor lingkungan. Terdapat ada 2 upaya yang dilakukan BPOM untuk mencegah peredaran pangan yang mengandung tambahan bahan kimia berbahaya, yang pertama dengan cara memberikan penyuluhan dan sosialisasi akan bahaya dari dampak bahan tambahan kimia berbahaya kepada pelaku usaha dan yang kedua dengan cara turun langsung ke lapangan ke tempat produksi mie kuning yang ada di kota Banda Aceh dan daerah-daerah yang banyak terdapat kasus penyalahgunaan bahan kimia berbahaya. Ada 2 sanksi yang diberikan kepada pelaku usaha yang telah memperdagangkan pangan yang menggunakan bahan kimia berbahaya ke dalam makanan yaitu berupa sanksi pembinaan dan sanksi peringatan baik peringatan secara lisan maupun secara tulisan.Disarankan agar BPOM, Penyidik Kepolisian Polresta Banda Aceh dan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, untuk terus melakukan upaya penyuluhan dan sosialisasi mengenai bahaya dari bahan kimia berbahaya, melakukan pengawasan supaya bahan kimia berbahaya tidak beredar di kalangan masyarakat dan memberikan sanksi yang tegas bahkan jika perlu diberikan sanksi pidana penjara agar dapat memberi efek jera bagi pelaku. Juga diharapkan agar masyarakat untuk lebih aktif dalam mengawasi peredaran bahan kimia berbahaya yang beredar di kalangan masyarakat.</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99049">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99050">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13078</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99051">
                <text>Fakultas Hukum</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99052">
                <text>TINDAK PIDANA MEMPERDAGANGKAN PANGAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN KEAMANAN PANGANRN(SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM BANDA ACEH)</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12339" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99053">
                <text>Raihanun Nisa Dinur</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99054">
                <text>2015</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99055">
                <text>ABSTRAKPerdarahan postpartum merupakan hilangnya 500 mL atau lebih darah setelah kala tiga persalinan pervaginam selesai, sedangkan 1000 mL atau lebih pada persalinan abdominal. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor predisposisi untuk terjadinya perdarahan postpartum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah paritas dengan kejadian perdarahan postpartum di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan retrospektif yang di lakukan selama bulan April dengan mengambil data rekam medik pada tahun 2011. Sampel diambil secara total sampling. Variabel penelitian adalah jumlah paritas dan perdarahan postpartum.  Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan jumlah paritas sebagian penderita perdarahan postpartum multipara sebanyak 21 responden  (45,6%). Berdasarkan uji analisis Chi Square menggunakan Fisher Exact Test terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan kejadian perdarahan postpartum (p = 0,009). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan kejadian perdarahan postpartum.Kata Kunci: Jumlah Paritas, Perdarahan Postpartum</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99056">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99057">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13079</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99058">
                <text>Fakultas Kedokteran</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99059">
                <text>HUBUNGAN JUMLAH PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POSTPARTUM DI RUMAH SAKITRNUMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDINRNBANDA ACEH TAHUN 2011</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12340" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99060">
                <text>Muhammad Ryan Rainaldi</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="40">
            <name>Date</name>
            <description>A point or period of time associated with an event in the lifecycle of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99061">
                <text>2015</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99062">
                <text>ABSTRAKMUHAMMADPERANAN LABORATORIUM FORENSIKRYAN RAINALDI,KEPOLISIAN DAERAH SUMATERA UTARA DALAM PEMBUKTIAN BARANG BUKTI PADA TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM POLRESTA BANDA ACEH2015Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (v,58), pp, tabl, bibl.Mahfud, S.H., LL.M Laboratorium Forensik penting artinya dalam mengungkap kasus kejahatan melalui proses pemeriksaan barang bukti, karena hasil pemeriksaan barang bukti dari Laboratorium Forensik terdapat dua alat bukti yang sah berdasarkan Pasal 184 ayat (1) huruf (b) dan (c) KUHAP yaitu keterangan ahli dan surat. Surat Perintah Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor Pol:  Sprin/295/II/1993, tentang Validasi Organisasi Polri yaitu laboratorium forensik menentukan bahwa salah satu tempat keberadaan laboratorium forensik yaitu di Medan. Namun di lapangan banyak hambatan yang terjadi dalam mendapatkan hasil Laboratorium Forensik Sumatera Utara.Tujuan penulisan skripsi ini untuk menjelaskan faktor penghambat laboratorium forensik Kepolisian Daerah Sumatera Utara dalam memberikan hasil alat bukti keterangan ahli dan surat yang mana hasil pemeriksaanya dapat mendukung keyakinan hakim dalam proses pemeriksaan perkara di pengadilan dan untuk menjelaskan upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut.Data dalam penulisan skripsi ini diperoleh melalui penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan (Field Research). Penelitian kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data sekunder, sedangkan penelitian lapangan dilakukan guna memperoleh data primer melalui wawancara dengan responden dan informan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menjadi hambatan dalam pengambilan hasil Laboratorium adalah penyisiran tempat kejadian perkara terlambat, terlambatnya bantuan teknis, surat permintaan yang tidak jelas, terbatasnya instrumen alat laboratorium forensik cabang, barang bukti terlambat dikirim, gangguan pada alat pemeriksaan laboratorium forensik, Upaya yang dilakukan oleh Polresta Banda Aceh yaitu mempercepat penyisiran tempat kejadian perkara, komunikasi via telepon dari Polresta Banda Aceh ke laboratorium forensik, pemeriksaan dialihkan ke laboratorium pusat di Jakarta saat alat instrumen di Kepolisian Daerah sumatera Utara rusak, Laboratorium forensik harus memiliki kesetaraan alat instrumen pemeriksaan dan sosialisasi pada masyarakat.Disarankan kepada laboratorium forensik agar dalam menjalankan tugas dan fungsinya lebih meningkatkan pelayanannya khususnya pihak yang meminta pemeriksaan secara laboratoris, mengingat pentingnya peranan yang diberikan dalam proses pembuktian perkara di pengadilan.</text>
              </elementText>
              <elementText elementTextId="99063">
                <text>Banda Aceh</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99064">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13080</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="45">
            <name>Publisher</name>
            <description>An entity responsible for making the resource available</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99065">
                <text>Fakultas Hukum</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99066">
                <text>PERANAN LABORATORIUM FORENSIKRNKEPOLISIAN DAERAH SUMATERA UTARA DALAM PEMBUKTIAN BARANG BUKTI PADA TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM POLRESTA BANDA ACEH</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12341" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99067">
                <text>Raihanun Nisa Dinur</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99068">
                <text>ABSTRAKPerdarahan postpartum merupakan hilangnya 500 mL atau lebih darah setelah kala tiga persalinan pervaginam selesai, sedangkan 1000 mL atau lebih pada persalinan abdominal. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor predisposisi untuk terjadinya perdarahan postpartum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah paritas dengan kejadian perdarahan postpartum di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan retrospektif yang di lakukan selama bulan April dengan mengambil data rekam medik pada tahun 2011. Sampel diambil secara total sampling. Variabel penelitian adalah jumlah paritas dan perdarahan postpartum. Data dianalisis secara univariat dan biva riat. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan jumlah paritas sebagian penderita perdarahan postpartum multipara sebanyak 21 responden (45,6%). Berdasarkan uji analisis Chi Square  menggunakan  Fisher Exact Test  terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan kejadian perdarahan postpartum (p = 0,009). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan kejadian perdarahan postpartum.Kata Kunci: Jumlah Paritas, Perdarahan Postpartum</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99069">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13081</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99070">
                <text>HUBUNGAN JUMLAH PARITAS DENGAN KEJADIAN RNPERDARAHAN POSTPARTUM DI RUMAH SAKITRNUMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDINRNBANDA ACEH TAHUN 2011</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="12342" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99071">
                <text>PRATANYA NOVIA ERMIDA</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99072">
                <text>TINDAK PIDANA PELECEHAN TERHADAP PENGADILAN ( CONTEMPT OF COURT ) DALAM SISTEM HUKUM PIDANA DI INDONESIA Penjelasan  Umum  Undang-undang  Nomor  14  Tahun  1985  tentang  Mahkamah Agung,  butir  4  alinea  ke  4,   menerangkan  maksud dari perlu  dibuatnya  suatu  peraturan    atau    undang-undang    yang    mengatur  tentang    ancaman  sanksi  atau  hukuman    mengenai    perbuatan,    tingkah    laku,    serta  perkataan-perkataan    yang dianggap  dapat  merendahkan    kehormatan    peradilan.  Hal  ini  bertujuan  untuk melindungi  serta  menjaga  martabat  serta  wibawa  peradilan.  Namun  kenyataannya banyak  masyarakat  ataupun  lembaga  masyarakat  yang  melakukan  hal  yang  dapat mencoreng nama peradilan di negeri ini. Tujuan  penulisan  skripsi  ini  untuk  menjelaskan  apa  permasalahan  Contempt of  Court  di  dalam  KUHP,  bagaimana  pengaturan  Contempt  of  Court  di  dalam RKUHP  serta  apa  kendala  dari  pengaturan  Contempt  of  Court  di  RKUHP  dalam penerapannya.  Untuk  memperoleh  data  dalam  penulisan  skripsi  ini,  dilakukan  penelitian kepustakaan.  Penelitian  kepustakaan  dilakukan  untuk  mendapatkan  data  sekunder yang dilakukan dengan cara membaca peraturan perundang-undangan, karya ilmiah, pendapat para sarjana, buku-buku dan artikel.  Berdasarkan  hasil  penelitian  diketahui  bahwa  di  dalam  KUHP  ada  beberapa pasal yang merumuskan mengenai perbuatan yang berhubungan dengan Contempt of Court  pasal  yang  ada  dirasa  cukup  untuk  mencegah  dari  perbuatan-perbuatan  yang dapat  menjatuhkan  citra  serta  wibawa  peradilan  di  negeri  ini,  walaupun  sejauh  ini KUHP belum merumuskan secara khusus mengenai perbuatan yang bagaimana yang dikategorikan  sebagai  Contempt  of  Court,  selain  itu  RKUHP  telah  memuat pengaturan  mengenai  Contempt  of  Court  yang  disusun  sedemikian  rupa  dalam  satu bab  khusus  di  mana  terdapat  ada  persamaan  dan  perbedaan  antara  KUHP  dan RKUHP mengenai pasal berkaitan dengan Contempt of Court. Adapun kendala dari penerapan  pengaturan  Contempt  of  Court  dalam  RKUHP  adalah  adanya  perbedaan system  di  mana  Indonesia  menganut  system  Civil  Law  sedangkan  RKUHP  banyak mengadopsi pengaturan dari Negara Common Law. Disarankan  agar  pengaturan  Contempt  of  Court  dapat  dirumuskan  dengan jelas  di  mana  dibutuhkannya  aturan-aturan  yang  dapat  menindak  dengan  tegas  bagi siapa saja yang melakukan tindak pidana Contempt of Court, selain itu adanya kerja sama  antara  seluruh  pihak  untuk  dapat  mengawal  proses  peradilan  agar  dapat berjalan  baik  dan  tanpa  ada  campur  tangan  dari  pihak  lain,    serta  dapat  mengawasi segala aspek berkaitan dengan peradilan agar para pihak di dalam internal peradilan dapat bekerja dengan baik dan dapat memberikan rasa puas terhadap masyarakat.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99073">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=13085</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="99074">
                <text>TINDAK PIDANA PELECEHAN TERHADAP PENGADILAN ( CONTEMPT OF COURT ) DALAM SISTEM HUKUM PIDANA DI INDONESIA</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
</itemContainer>
