<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<itemContainer xmlns="http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5 http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5/omeka-xml-5-0.xsd" uri="http://unsyiana.usk.ac.id/items/browse?output=omeka-xml&amp;page=737&amp;sort_field=added" accessDate="2026-08-12T04:51:57+07:00">
  <miscellaneousContainer>
    <pagination>
      <pageNumber>737</pageNumber>
      <perPage>10</perPage>
      <totalResults>15608</totalResults>
    </pagination>
  </miscellaneousContainer>
  <item itemId="9823" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86310">
                <text>Zahra Amalia</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86311">
                <text>Pelat lantai merupakan salah satu elemen struktural yang sangat penting pada bangunan bertingkat. Umumnya pelat lantai yang digunakan adalah pelat lantai beton bertulang. Saat ini penggunaan dek baja (floordeck) telah berkembang dalam industri konstruksi. Penggunaan beton ringan busa dapat menjadi suatu alternatif lain untuk mengganti beton normal karena memiliki berat volume yang lebih ringan, sehingga baik digunakan pada daerah rawan gempa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku pelat lantai komposit floordeck dengan beton ringan busa yang menerima beban garis, meliputi kapasitas pelat, lendutan, daktilitas serta pola retak yang terjadi. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak tiga buah dengan ukuran (2300 x 940 x 120) mm dan masing-masing dengan mutu beton ringan 25 MPa, 30 MPa dan 35 MPa. Bahan yang digunakan pada benda uji ini adalah floordeck dengan ketebalan 0,7 mm dan beton ringan busa. Pengukuran lendutan menggunakan LVDT (Linear Variable Differential Transformer) dan strain gauge untuk mengukur regangan. Kapasitas momen maksimum hasil pengujian pada pelat PLKM1 (25 MPa), PLKM2 (30 MPa), dan PLKM3 (35 MPa) adalah sebesar 1,352 tm; 1,360 tm; dan 1,360 tm dengan lendutan sebesar 5,92 mm; 5,69 mm; dan 5,35 mm. Ketiga benda uji tidak dapat dihitung nilai indeks daktilitasnya karena regangan maksimum yang terjadi tidak melampaui regangan lelehnya. Kehancuran yang terjadi pada ketiga benda uji merupakan kehancuran getas yaitu hancur secara tiba-tiba dan kegagalan juga terjadi pada lekatan antara pelat baja dan beton sehingga dua material tersebut terpisah dan tidak lagi bekerja secara komposit. Pelat lantai komposit floordeck beton ringan busa mampu bekerja secara komposit tanpa adanya shear connector dan wiremesh hingga beban maksimum 2,90 ton untuk mutu beton ringan 25 MPa; 2,92 ton untuk mutu beton ringan 30 MPa; dan 2,92 ton untuk mutu beton ringan 35 MPa. Peningkatan kapasitas momen pada pelat mutu beton 30 MPa dan 35 MPa sebesar 0,629% terhadap pelat mutu beton 25 MPa menunjukkan bahwa mutu beton yang digunakan memiliki pengaruh yang kecil terhadap kapasitas momen dari pelat tersebut.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86312">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9690</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86313">
                <text>ANALISIS PERILAKU PELAT KOMPOSIT FLOORDECK BETON RINGAN BUSA DENGAN KUAT TEKAN 25 MPA, 30 MPA, DAN 35 MPA</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9824" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86314">
                <text>Cut Riska Irnanda</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86315">
                <text>Salah satu elemen structural bangunan bertingkat adalah pelat lantai yang umumnya berupa pelat lantai konvensional. Dewasa ini, telah dikembangkan pelat lantai komposit dengan menggunakan dek baja (floordeck) sebagai pengganti tulangan positif yang juga dapat difungsikan sebagai pengganti bekisting. Floordeck dikombinasikan dengan beton ringan busa menjadi suatu alternative untuk mendapatkan massa bangunan yang lebih ringan, sehingga cocok diaplikasikan di wilayah rawan gempa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh ketebalan pelat terhadap perilaku pelat komposit floordeck beton ringan busa mutu 35 MPa yang meliputi kapasitas pelat, lendutan, daktilitas serta pola retak yang terjadi. Penelitian ini dilakukan terhadap pelat berukuran 2,5 x 0,94 meter dengan variasi ketebalan 10 cm, 12 cm, dan 14 cm. Floordeck yang digunakan memiliki ketebalan 0,7 mm dan tegangan leleh (fy) 410,519 MPa. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas beban maksimum meningkat seiring bertambahnya ketebalan pelat, dimana beban maksimum untuk PLKT10, PLKT12 dan PLKT14 adalah 2,60 ton; 2,92 ton; dan 3,06 ton. Momen lentur pada PLKT10, PLKT12 dan PLKT14 adalah 1,20 tm; 1,36 tm; dan 1,44 tm. Lendutan saat beban hancur untuk PLKT10, PLKT12 dan PLKT14 adalah 9,08 mm; 5,35 mm; dan 2,80 mm. Indeks daktilitas PLKT10, adalah 1,79; sedangkan PLKT12 dan PLKT14 daktilitas tidak terukur karena belum mengalami luluh.Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa semakin tebal pelat yang dibuat maka lendutan yang terjadi semakin kecil, sedangkan indeks daktilitasnya meningkat. Semakin tebal pelat, maka kekakuan strukturnya semakin tinggi.Kapasitas beban pengujian jauh lebih kecil dibandingkan beban teoritis. Saatterjadinya retak pada beban maksimum, lekatan antara floordeck dan beton terlepas sehingga kapasitas beban tidak lagi meningkat karena komponen materialnya tidak lagi bekerja secara komposit. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kombinasi beton ringan busa dan floordeckkurang efektif sebagai komponen struktural.Kata Kunci :Pelat lantai komposit, dek baja (floordeck), perilaku pelat lantai, beton ringan busa, variasi ketebalan pelat.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86316">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9691</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86317">
                <text>ANALISIS PERILAKU PELAT LANTAI KOMPOSIT FLOORDECK BETON RINGAN BUSA MUTU 35 MPA DENGAN KETEBALAN 10 CM, 12 CM, DAN 14 CM</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9825" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86318">
                <text>AYU LESTARI PURBA</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86319">
                <text>Salah satu komponen struktural pada gedung berlantai banyak yaitu pelat lantai yang pada umumnya adalah pelat lantai konvensional. Penggunaan dek baja (floordeck) yang dikombinasikan dengan beton busa menjadi suatu alternatif untuk mendapatkan massa bangunan yang lebih ringan dan cocok diaplikasikan di wilayah rawan gempa, sehingga perlu dilakukan suatu penelitian untuk membandingkan perilaku pelat lantai komposit menggunakan beton ringan busa terhadap beton normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan perilaku dari pelat komposit beton normal dengan beton ringan busa akibat beban garis, yang meliputi kapasitas pelat, lendutan, daktilitas serta pola retak yang terjadi. Benda uji yang digunakan sebanyak tiga buah berukuran 0,94 x 2,5 x 0,12 meter dengan ketebalan 0,7 mm dan tegangan leleh (fy) 410,519 MPa yaitu pelat lantai komposit floordeck dengan beton normal (BNF), pelat lantai komposit floordeck dengan beton ringan busa (BBF) dan pelat lantai betonbertulang (BB). Pengukuran lendutan menggunakan LVDT (Linear Variable Differential Transformer) dan strain gauge untuk mengukur regangan. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas pelat BB, BNF dan BBF adalah 5,32 ton, 4,61ton dan 2,90 ton. Kapasitas BB lebih besar dari pelat BNF dan BBF karena sifat pelat BB yang lebih daktail. Lendutan yang timbul pada saat beban hancur untuk BB, BNF dan BBF adalah 75,67 mm, 9,75 mm dan 5,92 mm. Indeks daktilitas BB dan BNF adalah 5,296, 1,220, sedangkan pelat BBF tidak memiliki nilai daktilitas karena setelah pelat mencapai batas leleh, pelat langsung hancur (getas). Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa pelat yang menggunakan beton normal (BB dan BNF) memiliki kapasitas lentur yang lebih besar, hal ini disebabkan oleh lekatan (bond strength) beton normal lebih bagus dibandingkan beton busa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelat lantai komposit floordeck dengan beton busa kurang efektif memikul beban garis pelat lantai dari pada pelat lantai komposit floordeck beton normal.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86320">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9692</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86321">
                <text>ANALISIS PERILAKU PELAT LANTAI KOMPOSIT FLOORDECK ANTARA BETON NORMAL DAN BETON RINGAN BUSA</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9826" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86322">
                <text>Sahal Abdil Kadir</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86323">
                <text>Negara Indonesia terletak pada daerah risiko tinggi dari beberapa bencana alam yang kerap terjadi belakangan ini, salah satunya bencana tanah longsor dan banjir bandang. Salah satu daerah yang mengalami banjir serta tanah longsor adalah Gampong Beurenut Kecamatan Seulimum Aceh Besar pada tanggal 2 Januari 2013. Pada umumnya permasalahan yang sering dijumpai dan paling berpengaruh pada stabilitas lereng adalah kecilnya kestabilan tanah. Berdasarkan permasalahan tersebut, dibutuhkan suatu analisis yang dapat memberi solusi dari permasalahan lereng dengan perbaikan atau perkuatan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besar angka faktor keamanan lereng dengan menggunakan Program Geo Slope/W kemudian dibandingkan dengan hasil yang diperoleh menggunakan Metode Bishop yang disederhanakan. Penggunaan kedua metode tersebut telah memberikan kemudahan dan keakuratan dalam pemecahan masalah stabilitas lereng untuk memenuhi persyaratan keamanan. Berdasarkan perhitungan pada tebing Krueng Teungku pada potongan melintang di Titik A-01, B-02, dan C-03 dengan menggunakan Program Geo Slope/W dan Metode Bishop yang Disederhanakan (Simplified Bishop Method) tebing tersebut tidak memenuhi persyaratan aman. Pada tahap kalkulasi Program Geo Slope/W diperoleh nilai Faktor Keamanan/safety factor (SF) yaitu 1,087, 1,067, dan 1,169. Pada perhitungan menggunakan Metode Bishop yang Disederhanakan diperoleh faktor keamanan yaitu 1,033, 1,021, dan 1,102 di mana nilai-nilai tersebut tidak memenuhi persyaratan faktor keamanan SF &gt; 1,25. Analisis kestabilan lereng dengan menggunakan 2 (dua) metode tersebut memberikan hasil perhitungan yang memiliki selisih rata-rata 4,96 %. Beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan faktor keamanan dari tiap titik adalah kemiringan lereng dan jenis tanah. Semakin kecil derajat kemiringan suatu lereng maka lereng semakin aman. Sebaliknya, semakin besar sudut kemiringan suatu lereng semakin menurunkan nilai faktor keamanan. Jenis tanah yang mengandung lanau juga mengakibatkan faktor keamanan menjadi kecil. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk memperkuat lereng agar tidak terjadi kelongsoran seperti memasang bronjong, turap, atau dinding penahan sesuai dengan keadaan di lapangan.Kata kunci : tebing, faktor keamanan, geo slope/W, metode bishop</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86324">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9693</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86325">
                <text>ANALISIS KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN PROGRAM GEOSLOPE/W DAN METODE BISHOP (STUDI KASUS PADA TEBING KRUENG TEUNGKU KECAMATAN SEULIMUM KABUPATEN ACEH BESAR)</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9827" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86326">
                <text>Subki Munanzir</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86327">
                <text>Motion JPEG 2000 merupakan standar kompresi yang sangat baik untuk digunakan dalam digital cinema, karena memiliki banyak fitur yang dapat digunakan. Deteksi scene change yang terjadi pada video banyak diperlukan untuk pengolahan data lebih lanjut karena sangat berperan penting dalam sejumlah aplikasi video, salah satunya dengan menggunakan metode pengaplikasian entropy. Metode ini mendeteksi adanya perubahan scene pada video dengan menghitung nilai entropy dan joint entropy dari setiap frame untuk mendapatkan nilai mutual information diantara frames video. Pada tugas akhir ini video diektraksi kedalam bentuk gambar berformat JPEG 2000 dan ditransformasikan ke domain wavelet diskrit untuk pengambilan nilai subband LL2. Nilai subband LL2 digunakan pada pengaplikasian entropy untuk menghitung nilai mutual information dari frame video. Perubahan scene video akan dilihat dari hasil perubahan nilai mutual information dari setiap frame video. Hasil dari pengujian, pada saat frame masih didalam satu scene, nilai mutual information diantara frames tersebut sama-sama tinggi dan pada saat frames terjadi perubahan scene, nilai mutual information diantara frame tersebut menurun. Perubahan scene dari pengujian ini didapat dibawah 0,5. Ini menunjukkan tingkat presisi penggunaan entropy dalam mendeteksi scene change video pada motion JPEG 2000 sangat baik sesuai dengan konsep teori informasi. Kata Kunci: Motion JPEG 2000, Scene Change, Entropy, Mutual information, Discrete Wavelet Transform?Motion JPEG 2000 is a standard compression which is excellent for use in digital cinema, it has many features that can be used. Scene change detection that occurs in the video are needed for further data processing as very important role in a number of video applications, one of them by using the method of application of entropy. This method used for detects a change in a video scene by computing the entropy value and the joint entropy of each frame to obtain the value of mutual information between frames of video. In this thesis the video extracted in the form of JPEG2000 and transformed into discrete wavelet domain to capture the value of subband LL2. Subband LL2 values used in the application of entropy to calculate the value of mutual information of the video frame. Scene change video will be seen from the results of changes in the value of mutual information of each frame of the video scene. The results of the testing, at frame is still in the scene, the value of mutual information between the frames are equally high and the time frames the scene changes, The value of mutual information between frames is decreased. Scene changes from the testing is obtained below 0.5. It shows the use of the entropy level of precision in detecting scene change in video motion JPEG 2000 is in accordance with the theory concepts of information.Keyword : Motion JPEG 2000, Entropy, Mutual Information, Scene Change, Discrete Wavelet Transform</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86328">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9695</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86329">
                <text>PENGGUNAAN ENTROPY UNTUK DETEKSI SCENE   CHANGE VIDEO PADA MOTION JPEG 2000</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9828" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86330">
                <text>Mahathir</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86331">
                <text>diketahui bahwa struktur rangka pemikul momen baja mengalami deformasi yang lebih besar dari pada struktur rangka pemikul momen beton bertulang. Dilihat dari nilai base shear, struktur rangka pemikul momen beton bertulang memiliki nilai base shear yang lebih besar dari pada struktur rangka pemikul momen baja. Berdasarkan SNI 03-1726-2012, beban gempa Kobe, Manjil dan Irpinia yang menyebabkan struktur rangka pemikul momen beton bertulang dan struktur rangka pemikul momen baja baik arah x dan y berada pada kondisi tidak aman. Nilai drift ratio terbesar terdapat pada beban gempa Manjil yaitu sebesar 0,0193, berdasarkan ATC-40 kinerja struktur berada pada tingkatan damage control. Dilihat dari perilaku kedua struktur terhadap nilai simpangan antar lantai dan drift ratio, beban gempa Manjil memberikan dampak terburuk terhadap keamanan struktur, sehingga untuk perencanaan struktur gedung pada penelitian ini akan lebih aman jika menggunakan analisis gempa dinamik time history dengan beban gempa Manjil.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86332">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9698</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86333">
                <text>PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR GEDUNG 12 LANTAI MENGGUNAKAN RNRANGKA PEMIKUL MOMEN BETON BERTULANG DAN RANGKA PEMIKUL MOMEN BAJA DENGAN ANALISIS GEMPA DINAMIK TIME HISTORY.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9829" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86334">
                <text>Muhammad Reza Rizky</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86335">
                <text>Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadinya gempa maka penggunaan material beton ringan busa pada konstruksi gedung sangatlah cocok karena dapat mengurangi massa bangunan, sehingga dapat mengurangi gaya gempa pada bangunan tersebut. Struktur baja merupakan salah satu alternatif bahan struktur utama yang paling sering digunakan untuk gedung tingkat tinggi. Tujuan perencanaan ini adalah untuk mengetahui berapa besar perubahan berat sendiri (self weight) struktur gedung. Pada perencanaan ini direncanakan sebuah rumah susun bertingkat delapan dengan 4 model yaitu model 1 struktur baja dengan plat lantai beton konvensional dan dinding bata merah, model 2 struktur baja dengan plat lantai beton ringan busa dan dinding bata merah, model 3 struktur baja dengan plat lantai beton konvensional dan dinding batafoam, dan model 4 struktur baja dengan plat lantai beton ringan busa dan dinding batafoam. Model 1 digunakan sebagai kontrol perbandingan berat dengan model lainnya. Tahaptahap perhitungan yang dilakukan adalah perhitungan pembebanan (beban tetap dan beban sementara), analisis struktur, kontrol desain terhadap balok dan kolom. Untuk analisis struktur menggunakan bantuan software ETABS. Standar perencanaan ini berpedoman pada metode Load and Resistance Factor Design (LRFD) yang tertuang dalam SNI 03-1729-2002 (Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung) dan pembebanan gempa dihitung berdasarkan SNI-03-1726-2012. Setelah itu diperoleh keseluruhan berat struktur mencakup berat sendiri kolom dan balok. Dimensi kolom terbesar untuk setiap model secara berturut-turut adalah HWF-400.400.16.24, HWF-400.400.21.21, HWF350.350.19.19,HWF-350.350.12.19 dan dimensi balok terbesar untuk setiapmodel secara berturut-turut adalah  IWF-400.300.9.14, IWF-400.300.9.14, IWF350.250.9.14,dan IWF-350.250.8.12. Untuk model 1 mempunyai berat struktur sebesar 382,025 ton, model 2 sebesar 370,561 ton, model 3 sebesar 304,769 ton dan model 4 sebesar 260,480 ton. Selanjutnya diperoleh perbandingan rasio berat antara model 2, 3 dan 4 terhadap model 1. Model 2 didapatkan penurunan berat sebesar 3%, model 3 sebesar 20,22% dan model 4 sebesar 31,82%. Sehingga gedung dengan model 4 lebih efektif digunakan karena terjadinya pengurangan berat sendiri struktur terbesar.</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86336">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9700</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86337">
                <text>PENGARUH PENGGUNAAN BETON RINGAN PADA DINDING DAN PLAT LANTAI TERHADAP PERILAKU PORTAL BAJA DAN BERAT KONSTRUKSI BANGUNAN RUMAH SUSUN BERLANTAI DELAPAN</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9830" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86338">
                <text>Febrina Hasida Idham</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86339">
                <text>ABSTRAKKabupaten Bener Meriah merupakan daerah dengan tingkat risiko gempa yang tinggi. Pada hari Selasa tanggal 2 Juli 2013 pukul 14.22 WIB telah terjadi gempa dengan kekuatan 6,2 SR. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bener Meriah melaporkan lebih 4.000 bangunan roboh dan rusak. Intensitas kerusakan bangunan dapat digolongkan atas rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. Kerusakan ini  terjadi pada bagian struktural, ataupun non-struktural pada komponen bangunan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi komponen dan nilai kerusakan rumah tinggal serta analisa nilai kerusakan yang diperlukan untuk merehabilitasi dan rekontruksi bangunan tersebut. Dalam penelitian ini yang ditinjau adalah komponen dan nilai kerusakan pada bangunan rumah tinggal dengan tingkat kerusakan ringan. Bangunan dikatakan mengalami tingkat kerusakan ringan non-struktural apabila terjadi retak halus, serpihan plesteran berjatuhan, dan mencakup luas yang berbatas. Bangunan dengan kerusakan ringan struktur apabila terjadi retak kecil, mencakup luas yang besar, kemampuan struktur untuk memikul beban tidak banyak berkurang dan masih layak fungsi atau layak huni. Penelitian dilakukan dengan cara identifikasi komponen bangunan rusak ringan, jenis kerusakan pada komponen-komponen, dan analisis nilai kerusakan komponen. Data yang digunakan yaitu data sekunder berupa data lokasi (Kecamatan, Desa, Pemilik rumah), jumlah rumah yang rusak dan pengelompokan tingkat kerusakan yang diperoleh dari data BPBD Kabupaten Bener Meriah. Data volume kerusakan diperoleh dari laporan investigasi kerusakan bangunan rumah, yang dikeluarkan oleh Jurusan Teknik Sipil Unsyiah yang bekerja sama dengan Pemerintah. Hasil dari identifikasi diketahui bahwa komponen yang paling dominan rusak yaitu pada dinding dan plesteran. Terdapat 962 dan 1.049 unit rumah yang mengalami kerusakan dinding dengan persentase 86% untuk jenis kerusakan retak dan plesteran dengan persentase 91,5% untuk jenis kerusakan retak/pecah, dan yang terendah ada pada kerusakan sloof dan atap dengan masing-masing persentase yaitu 1,9% dan 1,6% dari keseluruhan Kabupaten Bener Meriah. Kata kunci:  Komponen bangunan, rumah tinggal, rusak ringan, gempa bumi, Kabupaten Bener Meriah</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86340">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9701</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86341">
                <text>IDENTIFIKASI KERUSAKAN KOMPONEN BANGUNAN RUMAH TINGGAL AKIBAT GEMPA DENGAN TINGKAT KERUSAKAN RINGAN DI KABUPATEN BENER MERIAH</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9831" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86342">
                <text>Teuku Maulana Ansari</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86343">
                <text>Sepeda motor adalah salah satu jenis kendaraan pribadi yang paling banyak digunakan di Kota Banda Aceh. Simpang Jambo Tape adalah salah satu simpang yang memiliki volume lalu lintas yang tinggi pada saat jam puncak (peak hour), tingginya volume lalu lintas pada jam sibuk menyebabkan antrian kendaraan pada simpang bersinyal menjadi sangat panjang. Kondisi antrian yang panjang dan tidak beraturan menyebabkan sepeda motor berusaha mengisi ruang-ruang kosong untuk mencapai pendekat simpang. Untuk itu perlu dilakukan rekayasa lalu lintas pada persimpangan tersebut untuk meningkatkan kinerja jalan dengan menerapkan metode Ruang Henti Khusus (RHK) pada persimpangan bersinyal  Simpang Jambo Tape. RHK merupakan sebuah fasilitas yang memberikan ruang di depan antrian pada persimpangan bersinyal pada saat fase merah. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan RHK pada Simpang Jambo Tape, sesuai dengan jumlah kendaraan roda dua pada simpang bersinyal pada saat fase merah. Metode perhitungan berpedoman pada Metode Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) dan Modul pelatihan Perancangan RHK. Data primer terdiri dari dari data geometri, volume lalu lintas, jumlah rata-rata sepeda motor per fase merah dalam 10 waktu siklus masing-masing lengan simpang dan proporsi sepeda motor per lajur yang diperoleh dari survei di lapangan. Data sekunder terdiri dari data waktu siklus dan fase eksisting di lokasi penelitian. RHK hanya dapat diterapkan pada Jl. T. Hasan Dek dan Jl. Tgk. Daud Beureueh arah Simpang Lima, Jl. Syiah Kuala dan Jl. Tgk. Daud Beureueh arah Lampriet tidak dapat diterapkan karena tidak memenuhi syarat karena jumlah dan lebar lajur yang tidak mencukupi. Desain RHK pada Jl. T. Hasan Dek yaitu dengan tipe kotak dan luasnya 96 m2; pada Jl. Tgk. Daud Beureueh arah Simpang Lima dengan tipe P dan luasnya 111,2 m2. RHK perlu diterapkan pada Jl. Tgk. Daud Beureueh arah Lampriet, penerapan ini dapat dilakukan jika jumlah lajur dikurangkan dan penempatan ruang henti khusus di depan zebra cross.Kata kunci : Ruang Henti Khusus (RHK), sepeda motor, simpang bersinyal</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86344">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9702</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86345">
                <text>PERENCANAAN RUANG HENTI KHUSUS (RHK) PADA PERSIMPANGAN BERSINYAL SIMPANG JAMBO TAPE KOTA BANDA ACEH</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
  <item itemId="9832" public="1" featured="0">
    <collection collectionId="27">
      <elementSetContainer>
        <elementSet elementSetId="1">
          <name>Dublin Core</name>
          <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
          <elementContainer>
            <element elementId="50">
              <name>Title</name>
              <description>A name given to the resource</description>
              <elementTextContainer>
                <elementText elementTextId="31496">
                  <text>ETD USK</text>
                </elementText>
              </elementTextContainer>
            </element>
          </elementContainer>
        </elementSet>
      </elementSetContainer>
    </collection>
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="39">
            <name>Creator</name>
            <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86346">
                <text>LISA JUNIAR</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="41">
            <name>Description</name>
            <description>An account of the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86347">
                <text>ABSTRAKPrarancangan pabrik Regenerasi Pelumas Bekas ini menggunakan pelumas bekas sebagai bahan baku. Kapasitas produksi pabrik Regenerasi Pelumas Bekas ini adalah 50.000 Ton/Tahun dengan hari kerja 330 hari/tahun. Bentuk perusahaan yang direncanakan adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan menggunakan metode struktur garis dan staf. Kebutuhan tenaga kerja untuk menjalankan perusahaan ini berjumlah 184 orang. Lokasi pabrik direncanakan didirikan di Kota Cilegon, Provinsi Banten dengan luas tanah 26.400 m2. Sumber air pabrik Regenerasi Pelumas Bekas ini berasal dari Sungai Cidanau, Kota Cilegon, Provinsi Banten dan untuk memenuhi kebutuhan listrik diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Generator.Hasil analisa ekonomi yang diperoleh adalah:a. Fixed Capital Investment = Rp. 363.397.495.108b. Working Capital Investment = Rp. 62.904.518.142c. Total Capital Investment = Rp. 426.302.013.250d. Total Biaya Produksi = Rp. 609.126.814.459e. Hasil Penjualan = Rp. 927.349.519.908f. Laba Bersih = Rp. 238.667.029.087g. Pay Out Time (POT) = 5 tahun 2 bulanh. Break event Point (BEP) = 25 %</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="43">
            <name>Identifier</name>
            <description>An unambiguous reference to the resource within a given context</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86348">
                <text>http://etd.unsyiah.ac.id//index.php?p=show_detail&amp;id=9714</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="86349">
                <text>PRARANCANGAN PABRIK REGENERASI PELUMAS BEKAS DENGAN KAPASITAS PRODUKSI 50.000 TON PER TAHUN</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </item>
</itemContainer>
